Sebagai salah satu
blogger di Timika, Papua, saya
seringkali mendapat banyak pertanyaan tentang Tanah Amungsa Bumi Kamoro
ini. Ada yang bertanya tentang objek wisatanya, situasi lingkungan, kehidupan
sosial, kondisi transportasi ( berhubung saya kerja sebagai honor di Dinas
Perhubungan), investasi bisnis dan masih banyak lagi. Salah satu pertanyaan
yang akan saya bahas adalah pertanyaan tentang berbisnis di Timika itu
menguntungkan atau tidak.
Saya berusaha menjawab
pertanyaan yang dilontarkan ini dari sudut pandang saya sendiri. Yah,
setidaknya pengalaman saya sebagai anggota Himpunan Pengusaha Muda Perguruan
Tinggi (HIPMI PT) saat kuliah di Makassar dulu saya bisa gunakan sebagai
pengamat bisnis amatiran.
Rejeki pada setiap orang sudah diatur oleh Tuhan.
Ada yang sudah berusaha sekuat tenaga tapi usahanya begitu-begitu saja. Ada
yang santai-santai saja tapi usahanya berjalan
cukup baik.
Oleh karena itu kita
yang perlu jeli membaca kondisi pasar yang disesuaikan dengan suasana di daerah
masing-masing. Dalam pengamatan saya di Timika, ada beberapa peluang bisnis
berskala internasional seperti karaka, kayu gaharu, sarang semut,kopi Amungme,
buah merah dan masih banyak lagi.
Memiliki modal yang
besar di Timika bukan jaminan bahwa usaha kita akan berjalan dengan lancar. Ada
banyak faktor juga yang perlu diperhatikan termasuk didalamnya cara menjalin
relasi agar usaha kita banyak yang minati.
Mengapa saya mengatakan
demikian? Hal ini karena berangkat dari kisah-kisah nyata dari usaha yang saya
amati. Ada usaha yang baru saja rintis namun pengunjungnya banyak, ada yang
usaha yang sudah lama dibangun, tapi pengunjungnya menurun dan lambat laun
akhirnya tutup. Berikut contohnya:
1. Salah satu unit
usaha berkonsep Departement Store di sini memiliki keunggulan dari banyak sisi,
mulai dari lokasinya yang strategis dan ruangan usaha cukup luas dimana
memiliki dua lantai.
Di lantai satu, mereka
menjual barang kebutuhan sehari-hari
sedangkan dilantai duanya ada mini resto dan kebutuhan fashion. Di media sosial, mereka paling totalitas
berpromosi dengan menawarkan harga
promo.
Tak hanya itu, desain
promosinya tidak kalah keren dengan kota-kota besar lainnya. Dengan segudang
keunggulannya diharapkan tentunya akan banyak pengunjung namun pada
kenyataannya tidak sesuai ekspektasi. Dan mirisnya tahun 2019, unit usaha yang
katanya pernah berjaya akhirnya tutup.
Beda halnya dengan unit
usaha lain yang menggeluti lini
bisnis yang sama dimana mereka tak lelah
berinovasi baik mulai dari tawaran kebutuhan yang ditawarkan hingga dalam
semangat mereka membangun jaringan dengan mengadakan event-event tertentu yang
pada akhirnya membawa keuntungan yang besar bagi usaha tersebut
2. Salah satu resto
yang katanya pernah berjaya uga mengalami nasib yang sama. Saya masih sempat
bertandang sekali dan berkunjung ke resto ini, namun di tahun 2018 usaha ini
tutup karena kalah pamor dengan
resto-resto lainnya Yang cukup mengherankan bagi saya, kok bisa tutup ya
padahal tempatnya sangat strategis,ruangannya lebih luas, desain ruangannya
keren, ada fasilitas bagi anak-anak bermain, dan harga yang ditawarkan cukup
terjangkau.
Dalam amatan saya,
resto ini kurang berpromosi dan minim sekali mengadakan event-event sehingga
memungkinkan penyebab pengunjung jarang bertandang.
3. Banyak juga usaha
warkop/kafe di Timika namun tidak sedikit yang tumbang karena kalah saing
dengan usaha yang sejenis. Yang membuat mereka gagal karena mereka tidak punya
konsep usaha yang jelas, desain interior
yang biasa saja dan tidak menawarkan menu-menu spesial yang pada akhirnya
membuat orang berpaling ke kafe yang lain.
4. Penginapan/hotel di
Timika juga cukup banyak mulai dari kelas melati hingga kelas premium.
Sayangnya ada penginapan yang pelit memberikan promo, ada juga yang berpromosi
tapi tipu-tipu yang pada akhirnya membawa pengalaman buruk bagi pengunjungnya
dan alhasil pengalaman buruk itu menyebar.
Ada hotel baru dan
sering memberi promo serta menggadakan event engan tema-tema tertentu dengan menawarkan pelayanan terbaik kepada siapa saja pengunjungnya, yang pada
akhirnya mampu menarik para pengunjung walaupun hotelnya tergolong baru.
Usaha katering, fashion
dan aksesoris ponsel yang dipasarkan secara online cukup menjamur dan mendapat respon yang positif di kalangan
masyarakat Timika Tapi tergantung lagi seberapa besar harga yang ditawarkan dan
seberapa gesit merespon komentar pelanggan.
Di Timika, media sosial
Facebook masih mendominasi sebagai media
sosial yang ampuh untuk berwirausaha. Promosi
lewat Instagram belum terlalu menggembirakan.
Forum Jual Beli Timika
Facebook (FJBT) menjadi grup facebook paling ampuh berpromosi karena anggotanya
hampir menyentuh 200 ribu atau secara kasar 80% dari total jumlah penduduk Timika ada di situ. Ada juga
yang memanfaatkan fitur SMS Blast dari
Telkomsel seperti Inul Vista dan Sharon Mart di Timika mengingat Telkomsel
satu-satunya provider operator di kotaku.
Membangun Jaringan
Relasi di Timika
Membangun mitra/relasi
adalah salah satu kunci utama jika kita
menginginkan usia usaha kita usianya panjang. Bagaimana caranya memikat mitra
dari rekan-rekan yang kerja di bawah naungan PT. Freeport Indonesia (termasuk
privatisasinya) dan dari kalangan orang
yang kerja di pemerintahan.
Kedua kalangan ini
adalah sasaran target yang menggiurkan. Tak lupa juga merangkul
komunitas-komunitas mengadakan kegiatan sosial dan memfasilitasi warga-warga
gereja dalam dalam mengadakan pencarian dana dalam hal ini memberikan tempat
bagi mereka untuk melakukan bazar atau bentuk pencarian dana lainnya.
Ini bisa menjadi sarana
promosi yang menarik agar usaha kita
dikenal. Tak lupa juga menjalin relasi
yang baik dengan aparat keamanan mengingat dinamika keamanan di Timika
kadang tak stabil.
Tulisan ini juga saya publikasikan di akun Kompasianaku

