Sekat Tipis Antara Kagum dan Iri Hati - Heriyanto Rantelino

Sekat Tipis Antara Kagum dan Iri Hati

Sekat Tipis Antara Kagum dan Iri Hati



Ada kebanggan sendiri ketika berada pada lingkungan orang-orang yang besar, pintar, cerdas, berdedikasi, dan  inspiratif. Saya kagum pada kiprah mereka yang memberikan sesuatu bermanfaat bagi lingkungannya. Seperti manusia lainnya, dibalik rasa kekaguman itu, ada terselip rasa iri akan kemampuan mereka. Emang sih saya akui ada sekat yang teramat tipis antara rasa kagum dan iri.

Rasa iri yang saya maksudkan adalah rasa ingin memiliki kemampuan yang setidaknya bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat. Bukan iri untuk bisa menyingkirkan keberadaaan orang yaa....
Cara pengelolaan rasa iri saya lakukan secara positif. Saya menyadari bahwa saya memiliki keterbatasan dan tidak semua prestasi orang tersebut bisa saya tiru seluruhnya. Saya hanya memilih  apa yang sesuai dengan kemampuan dan passion saya saat ini.

Misalnya saja ketika saya “iri” ketika berada pada komunits yang hampir semuanya jago bahasa Inggris. Saya kadang hanya terdiam karena tidak tahu harus ngomong apa. Saya ingin bergabung dengan pembicaraan seru mereka. Oleh karena itu, saya mengelola rasa “iri” saya dengan belajar bahasa Inggris dengan berbagai cara, mulai dari download ebooknya, belajar dari aplikasi android, pelatihan online sampai mengambil jadwal kursus dimana saya mengambilnya di tiga tempat.

Contoh lain yaitu ketika saya melihat coretan tangan teman saya yang berhasil memenangkan lomba, bisa dapat sponsor produk dan bisa traveling gratisan. Saya kelola rasa iri saya dengan update informasi pelatihan workshop kepenulisan, baik itu fiksi maupun non fiksi, pelatihan untuk wartawan (walaupun saya bukan wartawan) saya umbat semuanya apalagi kalau gratisan. Saya udah jauh-jauh hari persiapkan waktu, tenaga dan mental untuk mengikutinya demi mendapatkan pengetahuan.

Dalam hal kehumasan, rasa “iri” saya melihat orang-orang yang bisa menjalin relasi dengan orang-orang besar. Oleh karena itu berbagai kegiatan public speaking dan kehumasan saya ikuti dan juga saya download pidato dari tokoh yang menjadi panutan saya selama ini.

Saya juga iri melihat teman-teman sebayaku yang sudah melanglang buana bisa melanjutkan studi berkat beasiswa yang mereka raih. So, kedepannnya, dengan rasa “ iri” saya akan menyusun target-target syarat untuk bisa mendapatkan beasiswa LPDP atau Fullbright dan bisa menimba ilmu di Universitas Indonesia , kampus Illinois, USA (tempat idolaku, Sri Mulyani, menimba ilmu) atau di  University of Leids.

Mengelola Rasa “Iri” Di Dinas Perhubungan
Berhubung saat ini saya menjadi tenaga honorer di Dinas Perhubungan. Saya iri melihat orang-orang yang cakap dalam mengelola transportasi. Oleh karena itu, saat ini saya banyak belajar dari data-data Dinas Perhubungan Mimika baik itu studi kelayakan, analisis data penelitian baik itu kajian teknis dan ekonomis atau terkadang saya sendiri melakukan analisis kecil-kecilan berdasarkan data yang saya dapatkan. Hal ini bisa menjadi latihan untuk membuat kajian atau paper nantinya jika  ingin melanjutkan studi.

Kelola Rasa Iri Dengan Positif
Rasa  kagum dan iri dan kagum hanya dibatasi oleh sekat yang teramat tipis. Kelola rasa “iri” dengan positif yang bisa meningkatkan kapasitas diri. Tak semua prestasi orang bisa kita capai, carilah yang sesuai dengan passion dan kemampuan. Jangan gunakan rasa iri untuk hal-hal jahat terutama menggeser keberadaan orang tapi gunakan sebagai pemicu untuk memberikan kontribusi bermanfaat dalam masyarakat.

Sumber gambar: informasi212.blogspot.com


Please write your comments