Ada
kebanggan sendiri ketika berada pada lingkungan orang-orang yang besar, pintar,
cerdas, berdedikasi, dan inspiratif.
Saya kagum pada kiprah mereka yang memberikan sesuatu bermanfaat bagi
lingkungannya. Seperti manusia lainnya, dibalik rasa kekaguman itu, ada terselip
rasa iri akan kemampuan mereka. Emang sih saya akui ada sekat yang teramat
tipis antara rasa kagum dan iri.
Rasa
iri yang saya maksudkan adalah rasa ingin memiliki kemampuan yang setidaknya
bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat. Bukan iri untuk bisa menyingkirkan
keberadaaan orang yaa....
Cara
pengelolaan rasa iri saya lakukan secara positif. Saya menyadari bahwa saya
memiliki keterbatasan dan tidak semua prestasi orang tersebut bisa saya tiru
seluruhnya. Saya hanya memilih apa yang
sesuai dengan kemampuan dan passion saya saat ini.
Misalnya
saja ketika saya “iri” ketika berada pada komunits yang hampir semuanya jago
bahasa Inggris. Saya kadang hanya terdiam karena tidak tahu harus ngomong apa.
Saya ingin bergabung dengan pembicaraan seru mereka. Oleh karena itu, saya
mengelola rasa “iri” saya dengan belajar bahasa Inggris dengan berbagai cara, mulai
dari download ebooknya, belajar dari aplikasi android, pelatihan online sampai
mengambil jadwal kursus dimana saya mengambilnya di tiga tempat.
Contoh
lain yaitu ketika saya melihat coretan tangan teman saya yang berhasil
memenangkan lomba, bisa dapat sponsor produk dan bisa traveling gratisan. Saya
kelola rasa iri saya dengan update informasi pelatihan workshop kepenulisan,
baik itu fiksi maupun non fiksi, pelatihan untuk wartawan (walaupun saya bukan
wartawan) saya umbat semuanya apalagi kalau gratisan. Saya udah jauh-jauh hari
persiapkan waktu, tenaga dan mental untuk mengikutinya demi mendapatkan
pengetahuan.
Dalam
hal kehumasan, rasa “iri” saya melihat orang-orang yang bisa menjalin relasi
dengan orang-orang besar. Oleh karena itu berbagai kegiatan public speaking dan
kehumasan saya ikuti dan juga saya download pidato dari tokoh yang menjadi
panutan saya selama ini.
Saya
juga iri melihat teman-teman sebayaku yang sudah melanglang buana bisa
melanjutkan studi berkat beasiswa yang mereka raih. So, kedepannnya, dengan
rasa “ iri” saya akan menyusun target-target syarat untuk bisa mendapatkan
beasiswa LPDP atau Fullbright dan bisa menimba ilmu di Universitas Indonesia ,
kampus Illinois, USA (tempat idolaku, Sri Mulyani, menimba ilmu) atau di University of Leids.
Mengelola Rasa “Iri” Di Dinas
Perhubungan
Berhubung
saat ini saya menjadi tenaga honorer di Dinas Perhubungan. Saya iri melihat
orang-orang yang cakap dalam mengelola transportasi. Oleh karena itu, saat ini
saya banyak belajar dari data-data Dinas Perhubungan Mimika baik itu studi
kelayakan, analisis data penelitian baik itu kajian teknis dan ekonomis atau terkadang
saya sendiri melakukan analisis kecil-kecilan berdasarkan data yang saya
dapatkan. Hal ini bisa menjadi latihan untuk membuat kajian atau paper nantinya
jika ingin melanjutkan studi.
Kelola Rasa Iri Dengan Positif
Rasa
kagum dan iri dan kagum hanya dibatasi
oleh sekat yang teramat tipis. Kelola rasa “iri” dengan positif yang bisa meningkatkan
kapasitas diri. Tak semua prestasi orang bisa kita capai, carilah yang sesuai
dengan passion dan kemampuan. Jangan gunakan rasa iri untuk hal-hal jahat
terutama menggeser keberadaan orang tapi gunakan sebagai pemicu untuk memberikan
kontribusi bermanfaat dalam masyarakat.
