![]() |
| Ilustrasi dokumentasi oleh Foto: Biro Pers Media Kepresidenan / Agus Suparto |
Mace
Marta dan Pace Thomas adalah sepasang suami istri yang menetap di Jalan Serui
Mekar, Kota Timika, Papua. Namun karena tuntutan pekerjaan sebagai penambang di
area PT Freeport Indonesia maka dengan berat hati, Pace Thomas pergi mengais
rejeki ke Tembagapura. Mau tak mau, Mace Marta harus tinggal di Kota Timika
bersama dua anaknya.
Anak
pertamanya sudah kerja di Dinas Perhubungan Mimika dan anak keduanya sudah di
kelas 3 SMA. Untuk mengisi waktu luangnya, Mace Marta berjualan pinang di
pinggir jalan.
Suatu
ketika, tiba-tiba Mace Marta dilanda rindu yang begitu besar ke Pace Thomas.
Untuk menumpahkan rasa rindunya yang bergejolak, Mace Marta menulis sebuah
surat yang isinya seperti ini
Halo
Pace Thomas. Bagaimana kabarmu di Tembagapura? Tiba-tiba saja, sa (saya) begitu
rindu ingat ko (kamu) e...! Walau ko turun Sabtu dan Minggu (5 hari kerja, 2
hari off) tapi itu sebenarnya tidak cukup bagi sa. Sa mau kita habiskan banyak
waktu untuk cerita banyak, tertawa bersama-sama seperti waktu kita masih SMA
dulu.
Sa
sebenarnya mau sekali ko lama di Timika, pergi belanja baju bagus-bagus di
Diana Supermaket, makan ayam goreng KFC di Galael, pergi sembayang sama
anak-anak di Gereja Viadolorossa, pergi renang di Kolam Kuala Kencana, menginap
di Hotel Rimba Papua, pi beli Karaka di mama-mama di Pomako, pi mancing di
muara, bakar ikan kakap merah, makan pinang sama-sama dan joget seka di rumah.
Tapi sa tidak boleh egois, karena ko kerja sebagai ko pu tanggung jawab sebagai
kepala keluarga.
Orang
bilang kepanjangan Timika itu Tiap Minggu Kacau, tapi sa rasa itu benar karena
sa pikiran kacau kalau ko jauh dari sa. Kacau pikirkan ko su makankah, kacau
pikirkan ko tidak sakitkah atau kacau pikirkan jangan sampai ada perempuan
bagatal yang colek-colek ko di sana.
Orang
bilang kepanjangan Timika itu Tiap Minggu Kangen, sa rasa itu benar juga. Sa di
Timika, pu kangen ko sekali ini. Kangen cara ko buat sa tertawa, kangen ko pu
masakan papeda, kangen ko pu muka,kangen dengar ko pu suara ngorok kalau ko
tidur pokoknya kangen ko semuanya.
Pace
Thomas, sa tahu di Tembagapura sana pu dingin apa tapi sejujurnya sa lebih
dingin di Timika. Bukan suhunya tapi karena ko yang tidak ada di dekat sa.
Kalau saya ke terminal gorong-gorong untuk jemput ko off dari tempat kerja, sa
macam mau polo ko langsung saat baru turun dari bus oranye itu. Tapi sa malu
karena banyak orang, nanti sa polo ko di rumah saja ee. Hehehe.
Nanti
pokoknya kalau ko cuti nanti, tong liburan ke Tual ee tapi naik kapal
Tatamailau. Ko pasti ingat kapal itu toh, tempat kita kenalan pertama kali. Sa
ingat waktu sa pu barang 2 karton Embal Love dan kacang botol, ko yang bantu
angkat dari kapal padahal ko tidak kenal sa waktu itu. Nanti kalau ke Tual,
kita bulan madu ke dua ee, kasih tinggal kita pu anak saja.
Dong
su besar itu, sebentar juga su mau kawin sama pucuk-pucuk muda Timika kapa.
Pokoknya kalau kita Tual, sa ajak ko kenalan sama sa pu keluarga di Kolser baru
kita pi jalan-jalan ke Pantai Pasir Panjang, Pulau Baer, Pantai Ngurtafur, Gua
Hawang dan banyak lagi.Ko santai saja, karena sa pu keluarga di Kolser itu
baik-baik. Tong pu masakan pu enak apa apalagi kalau masakan ikannya.
E..Ko
stop minum-minum ee. Ko simpan ko pu uang untuk biayai kita pu anak kedua
sekolah nanti. Sa mau sekolahkan di sekolah tempat pu Pak John Rettob dulu
sekolah di Curug. Biar bisa pintar kayak pace andalan sa itu.
Kalau
dia su selesai sekolah, semoga kita pu anak bisa jadi pilot dan punya pesawat
sendiri. Ko tahu toh tiket pesawat sekarang pu mahal apa. Makanya bagus kalau
kita pu anak ada usaha penerbangan pesawat macam Susi Air begitu biar kita pu
anak dan orang-orang Papua lainnya tidak mengeluh karena naiknya tong akan naik
pesawat murah kita yang namanya Papeda
Airways.
Pace,
sa baca kemarin portal berita andalanku, SeputarPapua.com, sa lihat ditulis di
situ bahwa katanya pemerintah Indonesia sekarang pu saham di Freeport 51 %
persen ee.
Sa
kira itu su bagus biar adil sama kita pu masyarakat. Tapi ada satu hal yang
sahamnya 100% sa punya yaitu ko pu hati. Kalau ko berani bagi sahammu sama
orang lain, berarti kontrak karya hati kita putus. Sa tra mau lihat ko pu muka
lagi kalau ko berani bagi-bagi ko pu saham hati itu. Itu mutlak sa punya semua.
Pace,
Sa pu kata-kata su habis. Pokoknya sioo, sa pu rindu dan kangen sekali ko Pace.
Ko tetap ingat sa eee. Ko kerja baik-baik di sana ee. Jaga ko pu kesehatan dan
jangan ko banyak pikiran. Sa di Timika setia dan demiiiii, percaya sa tra jalan
sama laki laki lain. Ko pu tetap nomor satu di sa pu hati. Salam sama Pace yang
pu Freeport ee, pace Tony Wenas.
Info
tambahan:
Cerita
ini hanya karangan belaka, hanya iseng-iseng buat pace/mace tersenyum. Jangan
dibawa ke hati. Jika ada kesamaan nama atau peristiwa itu kebetulan belaka.
Hidup jangan terlalu serius, nanti cepat pusing apalagi kalau soal hati yang
urusannya setengah mati kalau di pikir. Slow saja.
Penulis:Heriyanto
Rantelino, Anaknya Pace Marta dan Pace Thomas
Tulisan ini saya publikasikan juga di Akun Kompasianaku
