![]() |
| Ilustrasi: Shutterstock/BlueSkyImage |
Saya
teringat dengan momen tiga tahun silam kala
saya dan teman-temanku mendaftar
di sebuah perusahaan. Perusahaan itu tergolong memiliki reputasi yang baik.
Sebagai
pelamar yang baik, kami mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari berkas
dokumen yang diisyaratkan, pakaian yang akan dikenakan hingga melatih diri
mengerjakan soal-soal yang berhubungan dengan tes kemampuan akademik dan tes
wawancara.
Ini
adalah sejumlah amunisi yang kami persiapkan matang-matang agar kelak bisa
menjadi bagian dari perusahaan tersebut.
Namun
diantara kami, ada yang keliatan santai-santai saja. Terbesit dalam pikiranku,
apakah sang teman menganggap enteng serangkaian tes yang akan dijalani ataukah
dia tak tak serius ikut mendaftar. Saya memberanikan diri bertanya kepadanya
sebagai bentuk kepedulian. Namun jawaban yang saya terima sungguh tak terduga.
Dia
mengatakan bahwa dia sudah punya bekingan orang dalam dimana dia meyakini orang
itu pasti akan menolongnya tanpa mengeluarkan sepeser rupiahpun. Muncullah
keherananku dan melancarkan pertanyaan
saya selanjutnya bahwa mengapa bisa demikian. Lalu dia menjawab bahwa dia sudah
melakukan "hubungan" dengan orang dalam.
Oalah,
dia mengandalkan hal itu toh pantasan saja dia keliatan tenang-tenang saja.Pada
kenyataannya, dia memang yang terima dan kami lainnya terpental.
Tiga
tahun berlalu, tiba-tiba sang teman menelpon menanyakan kabar sekaligus
menanyakan mengenai lowongan kerja.
Saya
kaget, bukannya dia sudah bekerja di perusahaan bonafit, mengapa dia mau
resign. Dia pun menumpahkan curahan
hatinya bahwa selama dia bekerja, dia tertekan batin karena harus
meladeni" kemauan" orang yang telah menolongnya dahulu padahal orang
tersebut sudah berkeluarga.
Jika
dia menolak, maka dia berada dibawah bayang-bayang pemecatan. Dia sudah tak tahan menghadapinya dan mau
mencari pekerjaan yang membuat dirinya tenang tanpa beban.
Pelajaran
Hidup
Ada
pelajaran yang saya petik dari hal ini bahwa
butuh perjuangan besar dalam melamar suatu pekerjaan. Jikalau mendapat jalan yang instan, pasti ada
syarat dan ketentuan berat yang harus dihadapi terutama yang berkaitan
dengan norma-norma kehidupan.
Ada
dua diplomasi yang kadang menghampiri para Generasi Millenials(GM) , mau lewat
uang sogokan atau menuruti keinginan nafsu duniawi orang tersebut.
Orang-orang
yang tak bertanggung jawab tersebut memanfaatkan situasi yang dialami generasi
millenial yang masih labil. Sang
generasi millenials pun merasa percaya bahwa dengan hal itu akan memuluskan
jalannya.
Dibalik
jalan instan tersebut, tersembunyi dampak yang akan menghantui. Mulai dari
tekanan, munculnya penyakit hingga pada
rasa frustasi akibat penyesalan karena berada pada lingkungan yang serba
salah.
Bukan
bermaksud menggurui, tapi alangkah baiknya jika kita giat melatih kemampuan diri baik itu yang
berhubungan dengan tes kemampuan akademik, kemampuan fisik, psikotes, tes wawancara, tes kesehatan dan tak kalah penting adalah
memperbaiki attitude.
Di
era sekarang banyak kok tempat kerja baik itu instansi pemerintah maupun swasta
yang menerapkan transparansi dalam menentukan karyawan yang direkrut. Lihat
saja Tes CPNS dan BUMN akhir-akhir ini, banyak pesertanya yang bersaksi bahwa
mereka lulus murni kok. Jadi jangan khawatir
kawan-kawan.
Tersebut
itu seterusnya hanya dipandang sebelah matam orang yang tak punya kemampuan
hanya andalkan kemampuan di ranjang saja.
Yang
patut direnungi adalah orang-orang yang menawarkan hal-hal instan secara tak
langsung memandang hina keberadaan kita dan memandang sebelah mata
kemampuan. Terbujuk oleh rayuan mereka
pada akhirnya akan membawa kerepotan dari diri dan menemukan ketidaktenangan
dalam bekerja.
Tulisan ini saya publikasikan juga di Akun Kompasianaku
