![]() |
| Ilustrasi (Pixabay) |
Cuaca
cukup terik siang itu saat saya menuju ke salah satu pelabuhan penyeberangan di
Kabupaten Mimika, Pulau Papua. Perjalanan dari Kota Timika ke kawasan ini
memakan waktu kurang lebih 40 menit ini.
Di
dalam perjalanan, saya menikmati indahnya panorama alam Papua yang terlihat
begitu asri. Tampak jejeran pohon yang rimbun dan tanaman-tanaman pangan yang
mulai menampakkan hasilnya. Namun yang jadi pertanyaan, kok saya tidak melihat
adanya hamparan persawahan. Hal inilah yang membuatku bertanya kepada salah
satu kawan yang sudah lama menetap di Papua.
Kawan
saya ini menuturkan bahwa sebenarnya dulu ada sawah, tapi karena banyak kendala
yang ditemui yang pada akhirnya membuat masyarakat beralih ke tanaman pangan
yang lebih menjanjikan. Memang keliatan sih, bekas sawah yang sudah berubah
menjadi tempat menanam tumbuhan lain.
Padahal
jika dipikir-pikir, salah satu potensi pertanian yang menjanjikan dan belum
digarap secara optimal di Papua adalah beras. Hal ini membuat Provinsi Papua
dan Papua Barat punya ketergantungan pasokan beras dari luar pulau utamanya dari
Provinsi Sulawesi Selatan.
![]() |
| Dok:infonawacita.com |
![]() |
| Bekas Sawah Yang Sudah Jadi Ladang Berkebun. Dok:Pribadi |
Dari
data yang dilansir Kementeerian Pertanian, di Provinsi Papua Barat memiliki
area persawahan seluas 9000 hektar, namun tidak semua lahan bisa ditanami.
Hanya 2.145 hektar lahan persawahan yang bisa ditanami. Sisanya tidak tergarap
karena masalah saluran irigasi yang belum tertata dengan baik, distribusi pupuk
dan bibit padi.
Dari
hasil penelitian, produktivitasnya masih rendah dimana indeks pertanaman (IP)
hanya 1. Artinya dalam satu tahun hanya bisa bercocok tanam sebanyak satu kali.
Beda halnya di Pulau Jawa yang memiliki IP 2,5.
Alhasil
lahan sawah yang diperuntukkan untuk tanaman padi berubah menjadi ladang untuk
ditanami tanaman lainnya. Salah satunya jagung. Jagung dipandang lebih
menjanjikan hasilnya ketimbang padi, bagaimana tidak, tanaman jagung cukup
singkat, dua tiga bulan sudah bisa panen.
Siasat Cerdas
![]() |
| Bekas Sawah Yang Sudah Jadi Ladang Berkebun. Dok:Pribadi |
Perencanaan
secara sistematis perlu dipikirkan matang-matang dalam rangka kemajuan industri
pertanian mulai dari proses dari hulu hingga hilir. Disadari bahwa kehadiran
petani sebagai salah satu ujung tombak yang turut berperan dalam fluktuasi
harga kebutuhan pokok di Papua.
Hal
ini memancing saya untuk memikirkan bagaimana cara agar bisa membangkitkan
semangat penanaman padi di Pulau Papua sehingga melepas belenggu ketergantungan
beras dari daerah luar Papua.
1. Pelatihan Sumber Daya Manusia
Selama
ini, petani dari kalangan masyarakat lokal cenderung menanam umbi-umbian,
sayur, dan tanaman biji-bijian di lahan kering sedangkan pertanian padi sawah
dahulu dilakukan oleh masyarakat yang didatangkan melalui program Transmigrasi.
Untuk membangkitkan semangat ini maka perlu ada pendampingan intensif dari
Dinas Pertanian, TNI AD dan dari pihak akademisi yang disesuikan dengan program
cetak sawah.
Program
cetak sawah ini menerapkan manajemen dan pola pertanian modern yang terpusat
pada kelompok tani. Program pendampingan ini dimulai dari langkah awal proses
pembibitan, penanaman, pemeliharaan hingga panen. Dengan hal ini, diharapkan
para petani bisa belajar sistem pertanian yang modern dan dapat mengaplikasikan
ilmunya di lapangan.
2. Pendirian Koperasi Pertanian
Jika
kelak apa yang dikerjakan membuahkan hasil, maka tahap berikutnya adalah
bagaimana mendistribusikan hasil tersebut agar mendapatkan keuntungan bagi para
petani. Kehadiran koperasi pertanian tentunya diperlukan agar bisa mengontrol
hasil jual beli. Tak hanya itu manfaatnya, kehadiran koperasi ini juga bisa
mencegah adanya konflik dalam hal rebut tawar diantara para petani terkait
hasil produksi.
Petani
dapat dengan mudah menangani risiko yang melekat pada produksi pertanian, untuk
mencegah praktik penimbunan harga panen petani oleh para pelaku usaha nakal
serta menjadikan koperasi sebagai wadah proses interaksi pembelajaran dalam
meningkatkan kapasitas mereka. Intinya adalah
menjadikan koperasi sebagai lembaga perekonomian yang bisa meningkatkan
kesejahteraan petani.
3. Sinkronisasi dengan Sistem
Pemasaran Modern
Saat
ini Kabupaten Mimika, Papua lagi merintis salah satu aplikasi cerdas sebagai
bagian dari 25 kota cerdas Indonesia yang dicanangkan oleh Kantor Ketahanan
Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian dengan nama SA PUnya MIMIKA yang
merupakan singkatan dari Sistem Aplikasi Pangan Unggulannya Mimika.
Dengan
aplikasi ini maka akan membantu para petani dalam memasarkan hasil pertaniannya
dan menjembatani petani dan konsumen, tanpa bermaksud mematikan pangsa pasar
konvensional.
4. Mendorong Minat Generasi Muda
Papua di Sekolah Pertanian
Generasi
muda Papua yang nantinya akan meneruskan pembangunan pertanian. Memberikan
pengenalan bahwa petani adalah pekerjaan yang keren karena kehadirannya sangat
dinanti.
Tanpa
petani, masyarakat bisa saja kelaparan. Hadirnya mereka yang kemudian dikirim
ke sekolah-sekolah pertanian bisa memberikan pengetahuan tentang sistem
pertanian modern sehingga kelak mereka bisa mengelola sawah-sawah di Papua
dengan cara yang mutakhir dan inovatif.
Penutup
Pemerintah
perlu membereskan salah satu pekerjaan rumah ini dengan mendorong peningkatan
produktivitas dan frekuensi panen padi di Papua misalnya dengan revitalisasi
saluran irigasi, mendukung pendistribusian bibit padi serta menggencarkan
pelatihan bagi petani. Dengan begitu, tidak mustahil jika kelak Papua tidak
perlu datangkan beras dari Pulau.
Tak
lupa juga untuk menggiatkan program pengelolaan sawah di titik-titik pertanian
seperti Merauke, Monokwari, Momokwari Selatan, Teluk Bintuni, Teluk Wondama.
Hal ini pun sejalan dengan dorongan dalam mewujudkan program Nawacita Presiden
RI, melalui perkuatan sektor pertanian seperti padi dengan menggunakan alat
modern yang ramah lingkungan.



