![]() |
Ilustrasi oleh Solopos.com
|
Sebulan terakhir ini
cukup banyak kasus yang mengangkat fenomena beredarnya video yang mengundang
nafsu birahi. Salah satu yang paling hot belakangan ini adalah video yang pelakunya diduga mirip dengan salah satu
kontestan salah satu ajang pencarian bakat. Namun pada kenyataannya, terbukti
bahwa pelaku dalam video tersebut bukanlah kontestan yang dimaksud tapi orang lain yang punya kemiripan
wajah saja.
Artikel ini tak ingin
membahas siapa sosok pelaku adegan tersebut tetapi lebih terkonsentrasi pada
dampak dibalik aktivitas seseorang yang
mendokumentasikan aktivitas seksualnya.
Kejadian ini
mengingatkan saya pada kejadian saat masih mahasiswa dulu. Kebetulan saya
memiliki sedikit kemampuan dalam mengutak-atik software ponsel sehingga
beberapa teman mempercayakan saya memperbaiki perangkatnya sebelum dibawa ke
tukang servis. Dari beberapa teman saya tersebut, saya kaget dengan salah satu ponsel di mana
salah satu isi konten galerinya memuat video syur yang pelakunya mirip dengan
teman yang punya gadget ini.
Tanpa tendeng
aling-aling, saya tanyalah yang bersangkutan. Dia terlihat dia gugup dan
mukanya memerah. Dia pun mengaku bahwa itu memang dirinya. Teman ini pun
bertanya padaku mengapa bisa video itu bisa saya ketemukan karena menurutnya
sudah menghapus video itu beberapa bulan yang lalu. Saya memberikan pemahaman
kepada teman saya tersebut bahwa belum tentu file yang pernah dihapus dari
sebuah gawai akan terhapus secara permanen.
Kadang beberapa file
masih ada di bagian file sampah. Ibarat di komputer, file yang dihapus masih
tersimpan di file Recyce Bin. Kedua, walaupun sudah terhapus di ponsel namun
bisa saja ada cadangannya karena saat
pengaturan ponsel, tercentang konfirmasi
untuk membackup semua file ke Google Drive.
Selidik punya
selidik, ada beberapa alasan orang mendokumentasikan aktivitas seksualnya entah
itu dengan pasangan resmi ataupun tidak resmi. Alasan pertama digunakan sebagai
kenang-kenangan dan diputar kembali saat merasa
kesepian.
Alasan kedua
digunakan untuk pamer kepada teman-teman sepergaulannya sebagai pembuktian
bahwa dia memiliki kehebatan dan pesona sehingga bisa menaklukkan dan menarik
perhatian orang yang dimaksud untuk melakukan hubungan intim. Dia menganggap
itu sebagai bagian dari prestasinya.
Di balik aktivitas
menyeleneh ini tersimpan marabahaya yang bisa membuat pelakunya menanggung segudang akibat. Hal ini
bisa terjadi karena ponselnya jatuh ke tangan orang yang tak bertanggung jawab
dimana sang oknum berpotensi menyebarkan konten tersebut ke khalayak umum.
Berikut bahaya di balik aktivitas mendokumentasikan aktivitas seksual diantaranya:
1.Amunisi untuk
menghambat karir seseorang. Sang oknum sudah memegang kartu merah orang
tersebut dan itu bisa bisa digunakan untuk mengancam dan melakukan pemerasan
sebagai uang tutup mulut. Dampaknya
hidup tak tenang dan lama-kelamaan keuangan menipis akibat pemerasan tersebut
2. Jika sampai tersebar,
maka keluarga besar menanggung malu karena nama baik keluarga tercoreng. Mulai
dari orang tua, anak, istri/suami, saudara dan kerabat dekat lainnya.
3. Perjalanan karir
terhenti karena perusahaan atau instansi tempat kita bekerja tak mau ikut
menanggung malu bahwa salah satu stafnya melakukan tindakan tidak senonoh.
Penutup
Mendokumentasikan
aktivitas seksual dalam bentuk foto atau
video merupakan bentuk fantasi seks. Namun di balik semua itu menyimpan
segudang masalah. Disarankan untuk menjalani hidup dengan normal saja. Apalagi
bagi kita yang masih muda-muda ini, ada
masih banyak hal yang bisa diurusi. Mendingan mendokumentasi aktivitas
perjalanan karir kita sebagai langkah menyusun tangga-tangga kesuksesan ke
depan.
