![]() |
| Ilustrasi oleh: wapannuri.com |
Ketika seseorang terpilih menjadi ketua sebuah organisasi atau menjadi atasan di sebuah institusi, maka suka atau tidak suka mutlak untuk didukung karena ditangannyalah nasib sebuah organisasi atau instansi dipertaruhkan. Mengesampingkan emosi dan bersikap profesional sebagai bentuk kepedulian terhadap organisasi/institusi tempat kita bernaung.
Dalam kamus pribadiku, saya menganggap bahwa pimpinan adalah keluargaku. Itu lebih elok ketimbang menciptakan nuansa atasan-bawahan. Mengapa demikian? Jika nuansa atasan bawahan yang diciptakan maka orientasinya hanya menjalankan tugas saja sesuai tugas pokok dan fungsi saja, ketika jam kantor atau rapat organisasi usai, maka orang-orang didalamnya sibuk akan urusannya masing-masing atau istilahnya cari jalan masing-masing.
Tapi,
jika nuansa kekeluargaan yg diciptakan maka ada rasa saling memiliki untuk
tetap mengingatkan jika dirasa ada hal yang dirasa cukup janggal atau ada
keputusan yang kurang bijak tanpa mengurangi sikap hormat kepada pimpinan.
Tak
hanya itu, jika kita menerapkan nuansa kekeluargaan maka kita akan senantiasa
berada di sisi pimpinan saat suka maupun
duka. Ada rasa kepedulian untuk tidak membiarkan pimpinan sebagai kepala
keluarga untuk terperosok ke jurang dan melindunginya dari orang-orang yang
hendak mengkhianatinya atau mencelakakannya.
Ketika
inovasinya mendapat cibiran maka kehadiran kita sebagai penyemangatnya sehingga
pimpinan bersemangat mengaplikasikan idenya. Bersikap kompromi terhadap
keputusan non populis dan sesekali memberikannya input agar implementasi idenya
bisa lebih paripurna. Secara tak langsung nuansa ini akan mengesampingkan
materi, membangun loyalitas dan integritas pada pimpinan.
Terlepas
dengan keputusan pro kontra atau anti mainstreamnya kelak, maka kehadiran kita
sebagai orang yang senantiasa mengingatkan dan menawarkan sejumlah alternatif
solusi sebagai bentuk perhatian dalam menjalankan roda kepemimpinannya. Satu
hal yang mesti dihindari yaitu menciptakan sikap menggurui karena hal itu
menimbulkan kesan mengatur-atur
pimpinan.
Namun
ada batasan-batasan tertentu dimana pimpinan sudah tidak dianggap lagi bagian
dari keluarga yaitu ketika Beliau hendak
melakukan hal yang bertentangan
dengan moral dan iman, hendak mencelakakan orang dan melakukan penghianatan
kepada kepercayaan orang banyak
Sebagai
bagian dari keluarga maka sepatutnyalah kita memberikan perhatian, memberikan
support, mendukung ide revolusionernya agar Beliau dapat memaksimalkan tugasnya
sebagai nahkoda suatu organisasi atau institusi tertentu.
