![]() |
Empat bulan lalu, sebelum bertolak ke Papua, saya
sempat mendapat wejangan dari Pak Udin, seorang guru SMK, senior HMI, yang juga
salah satu pengusaha sukses di Makassar. Dia menasehati bahwa ketika berada di
Papua, ada banyak tantangan yang akan
dihadapi utamanya dari lingkungan pergaulan. Berhubung saya adalah tipe yang
suka tantangan, suka bertualang dan suka keluar dari zona nyaman, maka saya menjawab bahwa saya akan menjaga diri
baik-baik.
Sebelumnya saya diperhadapkan dengan pilihan
apakah tetap di Sulawesi, menuju ke bagian barat Indonesia atau bagian timur
Indonesia. Jika saya tetap di Sulawesi, saya rasa kehidupan saya begitu-begitu
saja. Kalau ke bagian barat, ada beberapa kenalan sih tapi saya pikir budaya hidupnya disana cenderung
hedonisme. Di Kawasan Timur Indonesia dikenal sebagai daerah yang masih banyak
mengalami ketertinggalan baik dari segi pembangunan manusia maupun
infrastruktur. Kehidupan orang di sana pun cenderung sederhana. Nah, karena
saya orang yang tipenya konvensional yang suka hidup sederhana, makanya saya
pilih ke sana saja dengan pertaruhan saya hanya memiliki kenalan yang bisa
dihitung dengan jari, kekhawatiran perang suku dan penyakit malaria.
Setelah empat bulan disini, saya mengalami apa
yang pernah dikemukakan Pak Udin.
Ujiannya datang silih berganti. Kalau diukur, mungkin goncangannya beratus
skala richter. Ada beberapa orang yang iri-irian, sok berkuasa, gila jabatan
dan hormat, mengutamakan gaya ketimbang kecerdasan. Tapi ada beberapa juga
orang yang niatnya tulus melayani, sabar dalam mengais rejeki dan hal inilah
yang memberikan inspirasi kepada saya.
Melihat semuanya ini, saya bisa memantau, siapa
sosok yang bisa diajak sebagai partner untuk bekerjasama, mana yang hanya bisa
diajak basa-basi saja, dan mana yang
bisa diajak tukar pikiran.
Ujian
mental yang paling besar yaitu bersosialiasi
ditengah orang yang suka berkoloni, membentuk klaster dan sentimen primordial (seperti suku, agama, dan ras) . Kalau ada yang buat
salah, yang dicermati bukan oknumnya tapi cenderung kepada asal sukunya.
Saya juga berubah dari anak yang suka menjelajah menjadi
anak rumahan. Saya harus beradaptasi karena jumlah relasi saya masih sedikit.
Ada banyak hal lagi ujian mental yang saya alami,
tapi saya tanggapi positif saja bahwa hal ini menempa diri saya untuk menjadi
pribadi yang lebih dewasa, lebih sabar, dan bijak dalam menanggapi masalah. Di
sini saya juga menemukan beberap orang baik kok yang senantiasa memberi
wejangan, dan pemahaman bagaimana berperilaku di Bumi Cendrawasih, Doakan saja
semoga saya bisa menghadapi semuanya.
