
Civitas
akademika di jurusan teknik perkapalan Universitas Hasanuddin dibuat heboh setelah tulisan salah satu mahasiswanya,SA,
muncul di salah satu koran nasional. Tulisan yang berjudul Tinggallah Penyesalan tersebut menuai
berbagai reaksi. Ada yang kesal karena menganggap pemikiran adek SA sebagai
bentuk penyesalan kuliah di teknik perkapalan. Ada juga yang menanggapi bahwa ini hanya bentuk ekspresi dari
seorang mahasiswa yang sedang mengalami titik jenuh di bangku perkuliahan.
Sebelumnya, saya pun pernah muncul di rubik dan koran yang sama dengan Dinda SA. Tulisan saya berjudul “Menjalin Interaksi” yang bercerita tentang pengalaman dan manfaat seorang mahasiswa menulis. Tentunya saat itu saya mewakili mahasiswa teknik perkapalan, karena tertulis dengan lengkap asal jurusan dan kampusku.
Sedikit
share pengalaman, kuliah di teknik perkapalan justru tak menghambat minat saya
dalam dunia kepenulisan. Asal bisa memanajemen waktu, kapan untuk kuliah dan
kapan untuk menulis. Malah kadang tugas-tugas kampus saya jadikan bahan tulisan
untuk diposting di blog pribadi. Selain itu saya juga menulis pengalaman dan
berbagai kisah yang terjadi di jurusanku seperti 10 mahasiswa perkapalan
berprestasi dan bagaimana prospek lulusan teknik perkapalan. Tulisan ini saya
publikasikan di Kompasiana.
Menulis
membawa sejuta manfaat bagi saya pribadi diantaranya bisa menuliskan kembali kisah
seru dan ilmu yang saya dapatkan di teknik perkapalan, mendapat banyak teman
dari berbagai latar belakang, dan manfaat paling besar yaitu memudahkan saya
dalam menyusun kalimat skripsi.
Menutup
celotehan ini, saya mengutip kalimat super dari Ethewong bahwa tidak ada salahnya menulis, karena kamu
akan tahu bagaimana bercerita kepada dirimu sendiri. Tidak untuk dibaca oleh
banyak orang, ya hanya untuk dirimu saja. Itu cukup.