![]() |
| Anak-Anak Muda Papua. Dok:Kumparan.Com |
Halo
kawan-kawan mahasiswa se-Nusantara utamanya yang berdomisili di luar
Papua. Apa kabarnya kabar kalian? Saya
berharap kalian dalam kondisi sehat walafiat. Kalian sibuk apa akhir-akhir ini?
Sibuk dengan rutinitas perkuliahan dan organisasi? Pastinya ya! Saya kira
begitu soalnya saya sudah melalui masa-masa itu kok kala masih berstatus
mahasiswa dulu.
Saya
mau cerita sedikit nih mengapa saya bisa "terdampar" di Papua. Ya,
semangat idealismeku yang pada akhirnya membuat saya menetapkan diri memilih
Papua sebagai bagian dari awal perjalanan saya selepas lulus kuliah.
Sebelum
tamat, saya sempat berikrar saya ingin mengabdikan diri di tempat yang berada
di luar Pulau Sulawesi dan jauh dari perusahaan yang didalamnya ada banyak
teman kampus. Alasan saya yang terakhir bukan bermaksud untuk menjauhi teman
dan alumni kampusku tapi ini sehubungan dengan jiwa saya yang suka tantangan.
![]() |
| Sumber: kompas.com/Barry Kusuma |
Tantangan
itu adalah ingin memulai perjalanan baru mencari perkawanan di Ujung Timur
Indonesia. Mirip-mirip perjalanan Ruffy dalam serial film animasi One Piece.
Intinya, saya ingin keluar dari zona nyaman. Bodoh amat deh kata orang-orang
bahwa saya menyia-nyiakan tawaran yang ada atau dicap tak berpikir realistis.
Tak hanya itu, ada yang mengatakan bahwa saya telah menjerumuskan diri akan
hal-hal yang tidak pasti yang berujung pada pundi-pundi penghasilan saya
nantinya hanya pas-pasan saja.
Sebagai
pemuda tipe petualang, saya ingin
memanfaatkan masa muda saya untuk mengeksplore hal-hal baru yang belum pernah
saya lakukan. Biar bisa menambah pengalaman sekaligus menempa mental. Soal
rejeki biar Tuhan yang atur deh. Biarpun gajinya pas-pasan yang pasti saya
senang menjalaninya. Daripada gaji tinggi tapi ujung-ujungnya makan hati yang
pada akhirnya jadi penyakit.
Pengalaman
di Papua
Saat
ini, saya sudah hampir dua tahun berada di Bumi Cendrawasih. Berbagai suka dan
duka telah saya lalui. Itulah bagian
dari cobaan yang hendak menguji iman dan kadar idealismeku. Sukanya karena saya mendapat teman-teman baru
dan menjadi saksi langsung perkembangan
Papua.
Dukanya
yah itu, jauh dari sahabat dan keluarga saya di Sulawesi, biaya hidup yang
lumayan gede ketimbang di Sulawesi dan tak kalah seru bahwa saya harus
beradaptasi dari titik nol lagi karena ada beberapa model pergaulan yang cukup
berbeda dengan lingkungan saya dahulu di Makassar.
Semenjak
menimba pengalaman di Papua, pikiran saya tentang Papua mulai terbuka. Apa yang
saya pikirkan selama ini tentang Bumi Cendrawasih ternyata sangat beda dengan
apa yang saya rasakan, alami, dengar dan lihat dengan mata kepala sendiri. Saya
sempat tertipu dengan narasi-narasi media tentang seramnya Papua. Pada
kenyataannya orang-orang Papua humanis kok. Mereka tulus dalam menjalin
pertemanan sekalipun orang tersebut seorang pendatang termasuk saya ini.
Proses
Adaptasi di Papua yang Cukup Sulit
![]() |
| Dok:Pribadi |
]
Bagi
para perantau yang mencoba peruntungan di Papua, akan menemui sedikit kendala
dalam proses adaptasi di Bumi Cendrawasih ini. Pasalnya, kehidupan di Papua
agak sedikit berbeda dengan daerah lainnya. Mulai dari lingkup pergaulan,
kebiasaan masyarakat, proses komunikasinya dan masih banyak lagi. Proses
adaptasinya lumayan berat bagi orang yang baru pertama kali menginjak Papua.
Beberapa
teman saya memutuskan kembali ke daerah asalnya karena tidak tahan dengan
kehidupan di daerah ini. Hal ini karena kebanyakan dari mereka merasa tidak
betah akibat suasana lingkungan pergaulan. Mereka terjebak dengan mindset yang
kerdil dimana mereka mengganggap orang Papua itu seram. Ada yang bilang dari
tatapannya saja sudah ngeri, belum lagi
kadang mereka jumpai ada yang
suka suara-suara besar (gertakan).
Hal
yang saya temukan malah berbanding terbalik. Teman-teman saya ini hanya
beramsumsi saja dimana mereka melihat dari tampilan luar saja padahal
sesungguhnya nyaman diajak berinteraksi. Saya punya teman yang tergolong suka
mabuk atau suka suara-suara besar tapi tak pernah mengganggu sembarang orang
kok. Ada kalanya mereka menawarkan minuman sekadar untuk menghargai keberadaan
kita saat itu. Yah, kembali pada dari
diri masing-masing mau terima atau tidak.
Menolak
pun tak apa-apa, mereka santai saja kok. Sepanjang saya di Papua, mereka tak
pernah berlaku rese atau biacara dengan suara besar kepada saya. Intinya
tergantung bagaimana kamu membawa diri dalam lingkungan pergaulan aja.
Curhatan
Selama di Papua
![]() |
| Dok:Pribadi |
Sudah
lumrah bahwa seorang pemuda/pemudi produk kampus dan digembeng organisasi kemahasiswaan pasti rada-rada
idealismenya masih besar ketimbang reorientasinya pada materi. Ibuku saja
sempat geleng-geleng kepala dengan jalan yang saya tempuh. Beliau mengatakan
kalau jadi orang jangan terlalu idelisme Nak, nanti kamu susah sendiri.
Dalam
hati sempat terbesit ingin seperti
teman-teman saya yang berkiprah di Pulau Jawa, Sumatera , Kalimantan,
dan Sulawesi yang sudah menikmati penghasilan lebih, bisa masuk keluar hotel
ternama, hangout di tempat yang berkelas, ikut pelatihan kerja dengan pemateri
yang keren-keren, dapat gaji yang lumayan gede yang bisa digunakan modal usaha
apalagi modal nikah. Tapi saya memutuskan tetap bertahan disini. Emang sih
pas-pasan banget kehidupan saya di Papua, tapi yang menjadi kekuatan saya
adalah pengalaman, inspirasi dan pengetahuan baru yang saya dapatkan di kawasan
yang saat ini dipimpin oleh Bapak Lukas
Enembe.
Apalagi
kalau mendapat jatah kunjungan ke daerah pedalaman, saya menemukan hal-hal baru
yang saya tidak temui di daerah perkotaan diantaranya bagaimana semangat
masyarakatnya menghadapi keterbatasan air bersih dan masih bergantung pada air
hujan, terkendala komunikasi karena jaringan provider yang belum merata, kesulitan
menemukan fasilitas transportasi dan masih banyak lagi.
Jika
teman-teman adalah tipe yang orientasi materi lalu kamu memilih Papua kayaknya
mindset tersebut perlu dikoreksi deh terkecuali jika memilih bekerja dibawah
naungan perusahaan tambang Amerika itu.
Yang
saya tangkap selama berada disini bahwa masyarakat Papua itu orangnya
ramah-ramah, humanis dan cenderung polos tapi bagi saya itu sesuatu yang baik
karena mereka menampilkan sesuatu yang naturan. Senyum orang-orang Papua itu
tulus banget jadi tidak tega deh kalau sampai ada yang khianati kepercayaan
mereka pada orang-orang yang didapuk bisa mewakili aspirasi mereka. Perlahan
tapi pasti saya membangun jalinan pertemanan dengan mereka dan mereka
senantiasa mendampingi saya dalam
mengarungi suatu pengalaman yang baru dalam menemukan hal-hal baru dan
unik di Papua.
Demonstrasi Tanpa
Kajian Mendalam
![]() |
| Dok:TopikTrend.Com |
Kawan-kawan mahasiswa
yang saya cintai, saya memperhatikan di media, kalian melakukan cukup banyak
aksi solidaritas dengan membawa nama Papua. Saya tahu maksudnya itu baik.
Kalian ingin agar Papua mendapat perhatian lebih dari pemerintah, ingin Papua
sejahtera seperti daerah-daerah lainnya. Namun sayangnya, kadang aksi yang
kalian lakukan agak berlebihan.
Bicara namun tak
sesuai dengan keadaan yang benar-benar terjadi di Papua. Alangkah bijaknya jika
sebelum mengkritis sesuatu, coba gali informasi dari media atau orang yang
terpercaya. Jangan ngotot-ngototan katakan ini katakan itu ternyata sumber
datanya dari media yang tidak kredibel. Sekedar referensi, teman-teman bisa
menjadikan rujukan Tabloidjubi.com atau Tirto, Salampapua, harianpapua atau kalau mau lebih dekat lagi yang
dirasakan warganya, bisa membaca laporan jurnalisme warga yang ada di media jurnalisme warga seperti Indonesiana
atau Kompasiana.
Saya merasakan apa
yang ada dalam benak kalian kok, toh saya juga
pernah rasakan yang namanya menjadi mahasiswa yang suka mengkritisi
keputusan organisasi, kampus hingga pemerintah. Gini-gini, saya juga pernah
duduk jadi pengurus BEM di Organisasi
Kemahasiswa loh sebagai pemegang pucuk
bidang Kewirausahaan. Walaupun bergerak di bidang finansial, pola pikir
saya tak melulu tentang pengelolaan dana tapi juga hal-hal yang berkaitan
dengan bidang lain.
Hal ini karena
seringnya saya ngumpul ama teman-teman yang punya pola pikir sealiran dengan
Sok Hok Gie, Che Guevara dan Soekarno. Saya sedikit cerita dikit tentang hal
ini karena khawatir kalian nanti berpikir bahwa
saya hanyalah mahasiswa yang kerjanya mantengin buku terus dan menutup
mata terhadap keeksistensian mahasiswa dan organisasi kampus.
Adapun manfaat yang
saya dapatkan adalah membentuk pikiran
kritis dan idealisme kayak kalian-kalian. Dulunya kalau pikir campur tangan
asing pasti langsung pikirannya negatif. Asal tahu saja ya, saking anti asing,
saya baru menginjakkan kaki di salah satu restoran nirbala milik Amerika kala sudah
3 tahun berada di Makassar.
Saya juga dulu
berpandangan bahwa apa yang dilakukan pemerintah semata-mata untuk kepentingan
golongan dan partainya saja. Namun seiring waktu, paradigma saya berubah.
Melihat permasalahan bukan dari satu sisi saja tapi dari sisi lain juga itu
perlu sehingga kita bisa bijak menyikapinya.
Menatap Aksi
Solidaritas Mahasiswa terhadap Presiden Jokowi
![]() |
| Jokowi dan Anak-Anak Asmat. Dok:Lamanberita.co |
Saya seringkali juga
melihat di media, teman-teman mahasiswa mengkritisi habis-habisan kebijakan presiden yang
memerintah saat ini seolah-olah semua keputusannya menangani Papua tidak becus.
Ada yang bilang Pakde Jokowi cenderung memandang remeh Papua lah atau bilangnya
beliau kurang tanggap dalam menyelesaikan permasalahan Papua. Indikatornya
bilang gini dari mana ya? Saya menduga ada pengaruh dari narasi media hoaks
yang suka mojokkan Pakde Jokowi.
Gini aja deh, jika
ingin tahu seberapa besar dedikasi beliau untuk Papua, minimal, kalian bisa
cari referensi data mengenai siapa Presiden Indonesia yang paling banyak
membawa kemajuan bagi Papua. Coba bandingkan satu persatu deh, pasti kalian
akan tercengang setelah mendapat hasilnya.
Oh, masih kurang? Coba deh datang ke Papua dan tanya warganya mengenai kepemimpinan presiden siapa yang
membawa perkembangan besar bagi Papua.
Atau masih kurang lagi? Coba buka
referensi data Papua dalam angka yang dilansir
Badan Pusat Statistik (BPS) Papua lalu bandingkan kemajuan dari tahun ke
tahun.
Sekadar
informasi tambahan lagi ya, dari sekian
Presiden yang telah memimpin, Pakde Jokowi adalah presiden yang paling banyak
bertandang ke Papua loh. Tercatat sudah lima kali sejak beliau memerintah.
Sudah menjadi rahasia umum jika beliau itu dalam jiwanya sudah mendarah daging
untuk melakukan blusukan yang tujuannya untuk memantau langsung perkembangan
pembangunan di Papua. Beliau tak percaya laporan-laporan yang masuk ke mejanya
tapi ingin langsung mengkrosceknya. Ini dilakukannya demi menjalankan
kepercayaan masyarakat Papua yang sudah
memilihnya.
Kritisi Freeport
Tanpa Ampun
Selain Pak Jokowi,
masalah yang tak kalah menjadi topik
pergunjingan mahasiswa di luar Papua sana adalah keberadaan Freeport di tanah
Papua. Saya menangkap pandangan sebagian mereka bahwa Freeport itu ibarat
monster yang menyeramkan dan telah
mengacaubalaukan Papua. Apa karena pikirnya ini adalah perusahaan asing yang begitu rakus mengambil keuntungan sebesar-besarnya
tanpa perhatikan kesejahteraan masyarakat Papua.
Saya tak bermaksud
bela perusahaan tambang emas terbesar ini, apalagi mau berharap imbalan. Saya
hanya ingin mengajak para mahasiswa untuk menganalisis dengan bijak. Namanya
korporate, pasti keberadaannya pro dan kontra dan ada plus minusnya. Tapi kalau
kalian bilang PTFI itu sangat jahat, itu tidak sepenuhnya benar. Tak dipungkiri
hasil limbahnya memang merusak lingkungan, tapi mereka mempertanggungjawabkan
kok dalam bentuk CSR dengan menggelontorkan dana cukup besar.
Tak hanya itu, mereka
membiayai fasilitas kesehatan secara gratis bagi masyarakat Papua, gelontoran dana beasiswa bagi pelajar,
memberi bantuan pembiayaan modal usaha, bermitra dengan pemerintah daerah
melakukan pembangunan instrastruktur dan
pemukiman di berbagai wilayah seperti yang terlihat di daerah Otakwa. Belum
lagi mereka menerapkan standar
keselamatan berstandar internasional yang sangat ketat bagi karyawannya. Kalau soal divestasi saham itu, saya belum
berani bicara hal itu karena masih simpang siur bagaimana bentuk
implementasinya ke depan .
Kalau soal pembagian
saham yang adil bagi Indonesia, saya
sepakat dengan aksi mahasiswa untuk menuntut kejelasannya sehingga jelas
bagaimana komitmen pemerintah pusat, pemerintah daerah dan perusahaan asing
milik Amerika tersebut dalam memajukan Papua.
Mengurai Masalah
Papua Secara Bijak
![]() |
| Dok:Indoaviaton.co.id |
Salah satu
permasalahan yang cukup banyak saya temui di Papua adalah konflik tanah. Bagi
sebagian suku di Papua. Tanah ibarat Ibu karena dianggap memberikan makan
kepada manusia. Mereka memiliki hubungan emosional yang dalam. Baginya, tanah
tak bisa dijual, tanah hanya bisa diwariskan. Bisa dimanfaatkan oleh orang lain
tapi harus seizin dengan pemiliknya. Jika sudah selesai, maka mesti
dikembalikan kepada pemiliknya.
Ibarat dalam film
animasi Dragon Ball, kita mesti mengumpulkan ketujuh bola Dragon Ball untuk
menyelesaikan satu permasalahan. Begitu juga dalam menyelesaikan suatu
permasalahan Papua, setidaknya ada tujuh elemen sosok yang diperlukan untuk
mengurai jalan keluar. Ada perwakilan dari pemerintah setempat, tokoh adat,
tokoh masyarakat (perwakilan pemuda dan wanita), kepala kampung, kepala suku,
aparat keamanan, dan tokoh agama. Sinergi ketujuh elemen inilah yang mampu
mengurai permasalahan yang melanda negeri di Bumi Cendrawasih ini.
Menyelesaikan
permasalahan Papua bukan hanya dengan menggelontorkan dana sebanyak-banyaknya
untuk pembangunan. Tak kalah penting adalah sumbangsih ilmu pengetahuan dan
pengalaman yang bisa dibagikan kepada generasi mudanya. Dengan begitu, pola pikir mereka selangkah demi selangkah
maju dan kelak bisa menjadi putra daerah yang membebaskan daerahnya dari jurang
ketertinggalan dan keterpurukan.
Semua gudang masalah
ini hanya bisa diselesaikan dengan kepala dingin, musyawarah dengan banyak
pihak, melibatkan tatanan hukum, kearifan lokal, pertimbangan budaya dan lain
sebagainya.
Penutup
Permasalahan Papua
itu kompleks dan sensitif, Kawan. Hanya orang-orang tangguh, tulus, dan
berintegritas yang diperlukan hadir di tengah-tengah masyarakat Papua. Pola
pikir kritis tak cukup untuk membawa mengurai masalah di Bumi Cendrawasih ini.
Meski niatnya baik, belum tentu disambut baik oleh orang Papua. Hal ini karena
biasanya terbentur pada kearifan lokal mereka.Misalnya gini,
sekalipun diberikan rumah yang bagus berupa perumahan tapi mereka tak bisa
berkumpul dengan keluarga, tak bisa bercocok tanam atau melaut, yah mereka gak
bakalan betah.
Hal ini karena jiwa
mereka sebagai petani atau nelayan sudah mendarah daging dalam hidupnya. Belum
lagi ada tanah ulayat yang merupakan warisan adat yang mesti mereka jaga karena
merupakan titipan dari nenek moyang mereka. Bagi mereka, hidup itu simpel aja.
Asal mereka hidup sehat, bisa
berinteraksi dengan keluarga dan kerabatnya, itu sudah cukup.
Saya menunggu
kedatangan teman-teman mahasiswa di Papua untuk menguji sebatas mana rasa
idealisme, melihat dengan dekat segudang masalah yang membelit negeri ini,
bagaimana semangat masyarakatnya bangkit dari keterpurukan. Mari ke Papua dan
rasakan sensasinya. Ada banyak pengalaman-pengalaman baru dan cerita-cerita
seru yang menunggu kalian di sini.
Tulisan ini juga saya publikasikan di Kompasiana









