Suka Duka Menyandang Status Mahasiswa Teknik
Menyandang status sebagai mahasiswa teknik Unhas itu ada enaknya tapi ada juga ngak enaknya. Ngak enaknya itu berasa diperlakukan layaknya anggota PKI yang mendapat sentimen dari beberapa orang. Berikut ini beberapa kisah suka duka menjadi mahasiswa teknik Universitas Hasanuddin.
Duka Menjadi Mahasiswa Teknik
1. Dikerjai petugas puskesmas
Saya pernah dikerjai petugas puskesmas di daerah Bungaejaya Makassar tahun 2009 ketika petugasnya mengetahui bahwa saya adalah mahasiswa teknik. Ibu petugas itu tahu karena saat registrasi, saya melampirkan kartu mahasiswaku. Setelah melihat identitasku, seorang ibu yang keliatannya umur 50an setengah berteriak mengatakan “Wah, inimi mahasiswa yang suka tawuran, pasti kau datang berobat karena luka ko toh”. Yah, wajar saja beliau mengatakan demikian karena saat itu lagi hangat-hangatnya pemberitaan tentang tawuran di kampusku. Petugas lainnya bercanda dan memanas-manasi Ibu itu sambil mengatakan “Aih, janganmi layani bu. Nanti kalau sembuh, pergi tawuran lagi”.
Dengan memasang wajah yang sinis ibu itu mengatakan saya sakit apa. Saya katakan bahwa saya sudah tiga hari merasa demam. Setelah itu, Ibu itu mengatakan bahwa saya harus menunggu nama saya dipanggil. Saya sempat melihat di buku registrasi,saya berada di urutan antrian nomor 11. Lama kelamaan saya merasa janggal, karena beberapa orang yang belakangan mendaftar sudah masuk ke ruang pemeriksaan. Saya pun menuju ke ke meja petugas dan mengajukan protes ,“Bu, mengapa orang yang dibelakangku tadi sudah masuk duluan sedangkan saya tidak dipanggil-panggil. Dengan santainya Ibu itu berkata “Siapa suruh kampusmu tawuran, sabar mi ko saja , bakalan dipanggil ji namamu”.
Karena saya tipe orang yang tak bisa berdebat dengan orang yang lebih tua dan juga takut kualat, saya kembali ke kursi pengunjung saja. Ah, biarlah saya menunggu, sembari cuci-cuci mata. Untungnya saat itu lagu Cita Citata belum diciptakan sehingga sakitnya tuh disini (sambil tunjuk dada) tidak saya ungkapkan ke ibu itu. Ibu itu benar-benar kerjain saya, saya ditaruh di urutan yang ke 27 yang artinya saya hampir menunggu satu jam lebih.
Saya menerima dengan lapang dada saja dengan alasan:
1. Kalau gratisan, jangan menuntut banyak. Terima saja apa yang diberikan
2. Jangan pernah lawan orang tua,nanti kualat
3. Kalau saya ngotot protes, saya takutnya kemarahan ibu itu tambah menjadi-jadi dan membangun paradigma bahwa anak teknik memang keras kepala.
Biarlah emosinya terlampiaskan ke saya saja, nanti kalau saya beradu mulut, bukannya tambah sembuh, malah muncul penyakit baru, sakit hati.
2. Dicueki di Organisasi Pemuda
Kisah duka yang kedua terjadi tahun 2010 dimana saat itu saya pindah kost dari Bungaejaya ke daerah Tamalanrea. Sebagai warga yang baru, saya perlu cari teman yang baru. Salah satu caranya yaitu bergabung di salah satu organisasi pemuda. Singkat cerita, semua anggota baru dikumpul dalam satu ruangan. Semua anggota baru dipersilahkan memperkenalkan dirinya masing-masing. Dari semua anggota baru, hanya saya seorang yang berstatus mahasiswa teknik. Nah, setelah sesi perkenalan usai dilanjut acara makan-makan gorengan, saya merasa agak aneh karena kayaknya saya agak dicueki oleh senior-senior di organisasi itu. Rata-rata senior2 tersebut berbaur dgn anggota baru lainnya. Hingga akhirnya seorang senior organisasi ini yang berambut agak gondrong mendekat dan berkata “ Kau anak teknik ya? Jarang-jarang anak teknik di organisasi ini. Kau orang kedua anak teknik yang terdaftar. Yang dulu itu sok-sok rewa (berani) sehingga orang-orang kurang suka dengannya”. Terjawab sudah pertanyaan saya. Ternyata mereka trauma dan menyamaratakan anak teknik sebagai benalu dalam organisasi tersebut.
Sukacita Menjadi Mahasiswa Teknik
1. Dihadang Di Jalan Oleh Senior Teknik
Ini terjadi sekitar tahun 2010 saat saya jadi panitia kegiatan kerohanian “ Ret-reat”. Saat itu saya bersama lima orang teman lainnya hendak ke Kabupaten Bantaeng untuk mengecek lokasi yang rencananya akan dijadikan lokasi kegiatan. Saat itu kami berenam menggunakan tiga motor. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 3 jam. Setelah tiba di sana dan mengecek kelayakan lokasinya, ternyata lokasinya kurang pas untuk berkegiatan. Lalu, kami putuskan untuk kembali ke Makassar lagi. Nah, saat kami lagi di perjalanan, tiba-tiba seseorang mencegat motor dan menyuruh kami menepi. Saat itu sudah menunjukkan jam 7 malam dan lokasi tempat itu sunyi. Berani juga orang tersebut menyuruh kami menepi padahal jumlah kami lebih banyak. Setelah menepi, orang itu membuka helmnya dan berkata “anak teknik ya? Kenapa malam-malam rombongan pulang. Kalian dari manakah?”. Seorang teman menjawabnya “ Kami dari Bantaeng, Kanda. Kami lagi cek lokasi kegiatan. Oh ya, darimana kanda tahu kami anak teknik?”. Orang itu menjawab “ Saya lihat ada stiker teknik di belakang motormu, jadi kupikir pasti kalian anak teknik. Saya juga senior teknik dan tinggal tak jauh dari sini jadi kalian tak perlu takut. Oh ya, Kalian pasti belum makan toh, ayo pergi makan”. Kami pun menuju warung makan terdekat. Senior ini baik sekali pada juniornya, Saking baiknya, kami lupa menanyakan namanya dan lebih menikmati makanan
Untung saja ada lambang berupa stiker teknik di motor salah satu temanku. Gara-gara stiker seharga 5ribu itu, kami dikenali dan dapat rejeki 6 porsi makanan. Saya maknai bahwa inilah bentuk perhatian senior kepada adik-adik juniornya walau itu hanya dalam bentuk traktiran saja.
2.Biaya Belanja di Carrefour ditalangi Senior
Sebagai mahasiswa, tentunya hidup penuh perhitungan terutama dalam belanja bulanan. Salah satu kiat saya hemat uang bulanan adalah mengamati promo diskon barang kebutuhan sehari-hari di ritel modern. Saat itu, cukup banyak barang promo di Carrefour, mengingat saat itu Carrefour lagi rayakan hari ulang tahunnya. Berbekat katalog, saya pun mengincar barang-barang promo semisal kecap, sampo, dan beberapa makanan ringan. Saat ke Carrefour, saya mengenakan baju kaos yang pada bagian belakangnya terdapat lambang tengkorak teknik Unhas. Saat antri di meja kasir, saya tiba-tiba didekati seorang wanita muda. Dia langsung berkata “Angkatan berapa ki dek di teknik?”. Saya cukup kaget karena tiba-tiba yang langsung bertanya sok akrab. Terbesit dalam pikiran, jangan sampe wanita ini lagi cari daun-daun muda untuk diembat. Dengan sedikit tenang saya katakan, angkatanku. Wanita ini berkata “Saya juga anak teknik Elektro dek tapi angkatan 2002, bagaimana keadaan kampus sekarang?. Sambil menunggu antrian, kami banyak berbincang tentang kondisi kampus. Nah, saat tiba giliran saya membayar, wanita ini berkata “Jangan mi ko bayar dek, nanti saya yang bayar. Dengan laga sok-sok saya menolak “Ada ji uangku Kak”. Tapi wanita itu langsung berkata ke kasir “Satukan mi total belanjaannya dengan belanjaanku Mbak”.
Kemungkinan besar seniorku ini iba melihat barang-barang belanjaanku yang semuanya barang promo diskon. Saya menebak isi hatinya berkata “kasiannya ini anak, jauh-jauh ke Carrefour tapi barang promo diskon semua ji nabeli”. Mungkin dia ingat zaman-zamannya susahnya saat dia jadi mahasiswa dulu yang hidup pas-pasan.
Selain kejadian diatas, ada berbagai kisah sukacita sebagai mahasiswa teknik misalnya saja ada beberapa senior yang menawarkan untuk join dalam kegiatan bisnisnya, mendapat nasehat untuk mempersiapkan masa depan dengan baik , melancarkan urusan ketika berhadapan dengan birokrat. Yang pada intinya, lebih banyak sukanya dibanding duka menjadi mahasiswa teknik
Polemik lambang tengkorak yang dijadikan sebagai salah satu tanda bahwa orang tersebut anak teknik mengundang pro dan kontra. Tapi secara pribadi, hal ini punya sangat berguna terutama saat berada di tempat-tempat umum. Coba andaikan saya tak mengenakan aksesoris teknik pasti senior-senior takkan mengenal saya di tempat-tempat umum. Pada dasarnya, saya tak menakar kebaikan seseorang dari materi yang diberikan, tapi saya maknai ini sebagai salah satu bentuk perhatian senior pada yunior-yuniornya.
Artikel ini saya publikasikan juga di akun Kompasiana dengan alamat http://www.kompasiana.com/heriyanto_rantelino/kisah-seru-menyandang-status-mahasiswa-teknik-unhas_54f340cc745513932b6c6db0
