![]() |
| mynewblogpapua.blogspot.com |
Lain lubuk lain ikannya. Lain
daerah lain pula bentuk aktifitas pemudanya.
Itulah peribahasa yang bisa menggambarkan perbedaan kehidupan anak-anak
muda di Makassar, tempat saya menimba ilmu dahulu dengan di Papua yang kini menjadi tempat saya mengabdi.
Jika di Makassar, kegiatan anak mudanya
lebih didominasi kegiatan modern, maka di Papua sendiri, boleh dikata semi modern.
Ketika baru menginjakkan kaki
di Papua, saya awalnya kaget melihat
anak-anak muda di sekitar tempat tinggalku yang dominan memiliki tato di
sekujur tubuhnya. Bahkan pria yang cenderung kalem, pas buka baju, wah, dia
punya tato juga ternyata. Jika di luar sana, tato dipandang sebagai tanda
premanisme, di sini lebih dipandang sebagai seni. Tatonya didominasi dengan gambar naga, dewa, graffiti , salib dan bahkan ada gambar Tuhan
Yesus sebagai bentuk cintanya pada sang Pencipta. Sekalipun mereka memiliki tatto tapi mereka
tak melakukan hal-hal yang mengganggu
ketertiban dan keamanan di dalam masyarakat.
Ada juga sekumpulan anak-anak
muda yang membentuk kelompok dance baik itu tradisional, konvensional dan ada
gabungan keduanya. Yang saya salut dari
mereka adalah olah gerak koreografi lebih banyak dilakukan secara otodidak, melihat beberapa gerakan
dance via youtube lalu mereka modifikasi sehingga menghasilkan koreografi yang
ciamik. Tak heran jika di sekolah-sekolah, selain pemain basket dan anggota
OSIS, pemain dance pun menjadi
primadona. Terkadang ditemukan suara-suara sumbang dari beberapa masyarakat
bahwa dance adalah kegiatan yang tak berguna, buang-buang waktu, dan tak
menghasilkan Jika ditelusuri lebih jauh, menjadi dancer itu tak muda. Menguras
banyak waktu, tenaga, bahkan materi.
Butuh waktu berbulan-bulan untuk latihan, stamina yang kuat, properti kegiatan
yang harga pembuatannya tidaklah murah. Totalitas mereka saya acungi jempol
lah.
Ada pula kumpulan anak-anak
muda yang tergabung di komunitas Rap.Seperti halnya Dance, mereka juga belajar
secara otodidak. Penampilan mereka pun
boleh dikata tak kalah dengan tampilan
penyanyi Rap di kota-kota besar. Walaupun kadang kurang di bagian lafal
dan pengucapan sehingga saya kurang menangkap apa yang mereka katakan, tapi hal
tersebut tak menjadi halangan untuk
menunjukkan talenta mereka bahwa mereka tak kalah dengan kelompok Rap di
luar sana.
Jika orang memandang aktifitas
mereka sebagai bentuk pergaulan bebas, namun saya memandangnya bahwa kegiatan
itu sebagai wadah untuk aktualisasi diri
di usia yang masih muda sekaligus pula untuk menambah jaringan pertemanannya. Saya salut pada mereka yang bisa bertahan di
tengah pandangan negatif dari beberapa orang, independen mencari dana dan orientasinya cenderung ke
totalitas performa ketimbang materi. Jika disikapi secara bijak, lebih
baik mereka beraktifitas seperti itu ketimbang nantinya lari ke bentuk
pergaulan tak bertanggung jawab seperti narkoba, lem aibon, atau campuran minuman yang memabukkan seperti
Beleg dan Sopie. Tetap Produktiflah Anak-Anak Muda Papua. Tunjukkanlah
kreatifitasmu.
Penulis:
Heriyanto Rantelino, Staf Dinas Perhubungan Kab. Mimika/ Pemuda Timika Papua.
Facebook: Heriyanto Rantelino
No telepon/Whatsapp : 085242441580
Line : Ryanlino

