Ada
satu hal yang cukup menarik perhatian saya kala berkumpul dengan teman-teman di
Papua. Setelah panjang lebar bicara tentang kegiatan sehari-hari, lalu kemudian
masuk ke tema pembicaraan yang serius tapi dibawakan dengan santai. Salah satu
rekan mengutarakan isi hatinya bahwa dia sudah beberapa kali tertipu dalam
hubungan asmara.
Dia
pasrah bahwa mungkin dirinya memang ditakdirkan untuk ditipu. Salah satu rekan
lainnya memberikan semangat bahwa dalam memilih pasangan untuk diajak jalan
(pacaran), perlu memperhatikan beberapa hal.
Dong
(mereka) bilang jangan terlalu termakan dengan bujuk rayu yang datang
menghampiri. Bukan menaruh curiga tapi jeli dalam menerima cinta dari
seseorang. Dong bilang jangan instan pilih pasangan. Jangan gara-gara punya
muka yang rupawan, keliatan punya materi yang mumpuni atau punya perhatian yang
kitorang tidak tahu maksud dibalik semuanya itu.
Jangan
sampai mereka hanya cari tempat pelarian
atau tempat pelampisan saja. Kitorang mesti selektif dalam memilih dorang.
Ada beberapa kiat yang rekan ini utarakan yang bisa jadi catatan sendiri bagi
anak muda dalam memilih pasangan diantaranya
1.Dia
senantiasa akan menanyakan keadaan kabar keluargamu. Ini pertanda bahwa mereka
punya perhatian pada orang-orang terdekat kita.
2.Bagaimana
dia berusaha hadir saat dalam keadaan sedih. Dia mampu mampu menjadi pendengar
yang baik, mampu memberikan solusi dan mampu menghibur sehingga tak larut dalam
kesedihan
3.Bagaimana
cara dia saat hubungan ada masalah. Bagaimana dia mengendalikan emosinya dan
fokus pada masalah yang dihadapi. Seseorang yang betul-betul serius akan
menunjukkan bagaimana mencurahkan segala pikirannya pada permasalahan yang
terjadi.
4.Bagaimana
dia mendukung segala keputusan, hobi dan
tidak ada usaha untuk menghalangi segala aktifitasmu. Setidaknya jika melarang,
mampu memberikan perimbangan mengenai untung rugi jika melakukan hal tersebut.
5.
Dia akan senantiasa mengingatkanmu untuk beribadah karena ibadah dapat membuat
hati lebih tenang dan jika Tuhan berkenan, segala perencanaan-perencanaan masa
depan bisa berjalan dengan baik.
6.
Dia takkan memaksamu untuk menjadi karakter yang lain di depan teman-temannya.
Dia takkan memaksamu berpenampilan wah
demi memamerkanmu. Jika itu dilakukannya maka itu pertanda tak menerimamu apa
adanya.
Pandangan
saya cukup terbuka mendengar celotehan-celotehan pemuda-pemuda Papua ini. Jika
dipikir-pikir ini benar juga adanya. Anak-anak Papua memang tra kosong dan
bukan pemuda kaleng-kaleng. Bukan hanya urusan olahraga saja jago tapi masalah
asmara, saran mereka cukup bisa menjadi pertimbangan. Salam damai dari Papua.
Tulisan ini saya publikasikan juga di Akun Kompasianaku
